Kamis, 08 Januari 2009

Self




BismIllahiRahmaaniRahiim.


Kembali, sebuah dialog antara hati dan jasad seorang insan di suatu masa :

“Assalamu’alaykum saudaraku”, sapa hati lembut, dengan riak wajah letih menyapa sang jasad. “Wa’alaykum salam wa rahmatUllah”, jawab jasad dengan teduh, Ada apa saudaraku, kau tampak lelah dan pucat? Adakah hal yang mengganggu dirimu beberapa saat ini?”.”Wahai jasad, saudaraku, aku sudah tak sanggup menanggung beban ini. Aku terus diburu was-was dan dirundung durjana”, jawab hati. “Apa yang kau dapati hatiku? Bukankah kita telah hidup dengan sejahtera selama ini? Allah telah memenuhi kebutuhan tubuh ini setiap saat hingga kita masih bersua disini. Maha Suci Ia yang mengurus kita. Ceritakanlah hatiku, inshAllah aku pendengar yang baik bagimu”, hibur jasad dengan senyum lembutnya.

“Saudaraku, katakanlah tentang duniamu itu, dunia nyata yang dipenuhi dengan materi dan bayangan realita-realita yang merusakku, hatimu ini...”.

”Merusakkmu, hatiku?Dari segi apakah kau menilai dunia materiku demikian? Di duniaku itu memang dipenuhi dengan orang-orang yang dikejar dan mengejar saudaraku. Mereka terlihat seperti anjing-anjing jalang yang tak berakal ketika mabuk dalam bayangan maya khayalan mereka tentang hidup. Mereka bermimpi ketika tidur namun tak juga bangun hingga mata-mata mereka terbuka dan kaki mereka berjalan. Itulah manusia yang tak lebih seperti mayat hidup, hatiku. Hati mereka gelap dan dipenuhi beban tak terjawab. Mereka hidup dalam tidur, mereka mati dalam hidup..Ku harap kita tak sedang mengalami hal yang sama hatiku, aku tak ingin hidup seperti zombie tanpamu disisiku…”.

“Duhai saudraku, jasad. Jika kau memahami dunia sirr-ku ini, kau akan takjub atas hukum ketidak pastiannya di sini. Ia adalah citra delusi dan ilusi yang kudapat dari matamu, sensasi sentuhan dan wangi yang kau cium.. Delusi itu mewujud menjadi kenyataan yang tergambar bahkan terukir disini, dalam memoriku duhai jasad. Ketika badai-badai keindahan dunia materi yang kau dapati kau transmisikan kedalam diriku, aku impulsif, absurd dan delusif saudaraku… Aku diterpa dan didera berbagai rasa dan sensasi. Sering kali itu menyiksaku, namun ia juga selalu menghiburku..Aku hidup dari paket-paket impuls neuron yang kau transfer kedalam layar memoriku, jasad”.

“Sungguh, aku tak bisa merasakan itu, hatiku. Aku hanyalah jasad yang mekanis dan selalu kau tuntun aku meski aku bermata sedang kau tidak. Citra mayamu selalu menjadi realita padaku ketika kau berkata, hatiku. Katakanlah kesukaranmu hati, agar aku dapat memilihkan informasi apa yang baik yang kau butuhkan hingga delusi-delusi mengerikan tak terus menghantui dirimu itu.”

“Kau tahu jasadku? Kita telah bersama dua puluh satu tahun, dan hingga saat ini telah kurasakan dan kau jadikan bersamaku dosa dan kekafiran kita bersama. Ketaatan dan keimanan, rindu padaNya atau kecewa yang mendalam pun telah kita lalui. Kini, kuperhatiakn dirimu selalu shalat dan beramal kepadaNya. Kuasumsikan apa yang kau lakukan dapat menyuburkan citra-citra positif dan indah bagiku jasadku, tapi ternyata….tidak.”

“Itukah yang menjadikan kau bermuram durja saudaraku?”

“Ya, jasadku. Dan aku bertanya pada diriku sendiri. Kucari dalam lipatan-lipatan data otakmu dan kucari kombinasi passwordnya diukiran-ukiran sensasi dilipatan cahayaku, jasad. Namun, ketika kutemui brankas yang berisi jawaban-jawaban logis di otakmu, kunci itu tak kunjung kudapati di lipatan cahaya itu. Ia redup, dan hampir padam..Hingga kau dapati aku menyuram dan muram jasadku..Entah kenapa?Kenapa jasadku, jawab aku…”

“Kau tahu hatiku, ketika kaki ini kulangkahkan ke masjid dan aku shalat di sana, aku telah melaksanakan apa yang menjadi kewajibanku. Aku berkata demikian karena aku hidup dalam dunia mekanik hatiku, dunia materi meski itu pun hanya citra maya otakku.”sambut jasad.”Aku telah menjalankan semampuku apa yang harus menjadi amanah atas diriku dariNya hatiku. Kusucikan diriku dalam wudhu dan kumasuki rumahNya dengan takzim dan aku pun shalat di sana. Ketika itu kita selalu bersama, ketika semua telah sempurna dalam rukun dan sunnanya. Tapi kurasakan pula kau berbeda saat kubesarkan namaNya dalam takbirku. Kurasakan kau kosong.. Dan aku bertanya pada otakku apa gerangan yang menjadikanmu diam membisu penuh was-was. Sesaat otakku buntu tak menjawab hingga cahaya itu datang membuka kunci kejumudan dirinya. Otakku tak tahu dari mana cahaya itu, yang jelas ia bukan dari dirimu yang sakit saat itu..”

“Lanjutkanlah jasadku.”

“Otak berkata padaku dengan lisan akalnya bahwa kau sedang terbebani oleh sesuatu yang tidak seharusnya kau pikul, kau sedang masuk dalam alineasi dunia materiku hati. Kau tengah dimabuk keindahan duniaku ini, hingga kau kehilangan dunia sir-mu itu, kau kehilangan nilai dirimu. Ingatkah kau pada saat kita tengah shalat dan kau menjadi was-was akan kehilangan laptop yang saat itu kuletakkan di pojok shaf ketika kita berada dishaf pertama di belakang imam kemarin magrib? Atau ingatkah kau ketika dirimu diundung was-was akan kehabisan waktu untuk menyelesaikan belajar menghadapi mid test beberapa minggu silam hingga aku hanya shalat sendirian sedang kau jenuh dengan sensasi-sensasi surammu itu?”

“Aku bingung jasadku.”

“Tahukah kau seberapa mahalnya sebuah sepeda motor bagi seseorang hingga ia harus rela membanting tulang demi membelinya kemudian barulah ia bisa memakainya ketika ia membutuhkannya?”

“Ia begitu mahal hingga tak semua orang mampu membelinya, jasad. Tapi apa maksudmu?”

“Sebaliknya hatiku, mengapa banyak kita temui di parkir-parkir masjid atau bahkan parkir-parkir kampus berjejer motor-motor tanpa ada pemiliknya yang menjaganya? Ia hanya dijaga seorang tukang parkir.”

“Karena tentu akan sangat aneh ketika motor itu dimasukkan ke dalam masjid atau ruang kelas, jasadku. Itu bukan tempatnya, semahal apa pun ia.”

“Benar wahai hatiku. Sekarang mari kita analogikan kegundahanmu pada kasus motor tadi.”

“?????”

“Saudaraku, kau kehilangan dirimu dan hidup dalam tekanan karena kau sedang membebani dirimu dengan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Ingatkah ketika kau shalat kau seharusnya tak membawa atribut duniamu mengahadap Kesucian DiriNya?Namun kau malah menempatkan urusan-urusan kampus dan masalah pribadimu dalam shalatmu. Pantaskah ia kau hadapkan bersama dirimu ketika itu? Sungguh tak pantas wahai hatiku…Seberat apap pun konsekuensi duniamu, tak! Sama tidak pantasnya kau memasukkan sepeda motor ke dalam masjid semahal apa pun harga yan harus kau bayarakannya. Maka tempatkanlah segala sesuatu pada tatanannya hatiku, karena Allah tak menjadikan duniamu dan duniaku sama. Tapi Ia memberikan interkoneksi yang timbale balik akan duniamu dan duniaku. Pahamilah ini.”

Maafkan aku jasadku, sepertinya apa yang kau katakana itulah yang kucari selama beberapa saat ini. Aku telah melupakan DiriNya yang menggenggam urusan kita.Hasbi Allah..Hasbi Allah..Hasbi Allah..”

10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

11. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan."

12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

13. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.

14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok."

15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

16. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

18. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),

Terjemah Al Baqarah 10-18

Rabu, 31 Desember 2008

Abu Hanifa Berhaji

Ketika melaksanakan ibadah haji, orang akan meninggalkan segala atribut dunia dan akhirat, akan menghindari sikap sombong, entah dia birokrat, ilmuwan, cendekiawan, konglomerat, seniman, artis, pedagang, ulama, kyai, dan lain-lain. Mengenai hukum fikih, sudah jelas kalangan ulama tak perlu bertanya-tanya, apalagi kepada orang yang dianggapnya lebih rendah ilmunya. Ini, karena ia tahu seluk-beluk hukum agama melebihi orang lain.

Hanya saja, sebagian mereka itu hanya tahu teori, bukan pengalaman, karena belum sampai pada praktek. Mungkin mereka sudah berguru cukup lama dan sudah membaca kitab-kitab fikih tentang haji cukup banyak. Mereka sendiri belum pernah ke Mekkah, belum naik haji. Karena itu, meski kita di kampung mungkin dipandang sebagai guru, ustad, khatib, imam, ulama, dan sebagainya, dalam melaksanakan ibadah haji ada baiknya kita bersikap lebih rendah hati, tak perlu segan bertanya jika ada pelaksanaan hukum yang kurang jelas. Maklum, melaksanakan ibadah haji tidak seperti ibadah lain, hanya sekali seumur hidup. Mungkin saja apa yang sudah dipelajarinya mudah lupa.

Dalam hal ini barangkali kita patut bercermin kepada Imam Abu Hanifah, seorang mujtahid dan pendiri mazhab Hanafi, ulama besar pada zamannya. Sampai sekarang ia diakui kebesarannya. Jutaan pengikutnya. Ia menceritakan beberapa kesalahan yang dilakukannya ketika melaksanakan ibadah haji, sehingga dalam beberapa hal ia harus dituntun oleh seorang tukang cukur.

Ia menceritakan pengalamannya sendiri dengan mengatakan: Aku telah membuat beberapa kesalahan dalam melaksanakan manasik haji. Ketika akan mencukur kepala, kepada tukang cukur aku bertanya, ''Berapa biaya cukur kepala?'' Dia balik bertanya, ''Anda orang Irak?'' ''Ya,'' jawabku. ''Duduklah,'' katanya. ''Dalam melaksanakan ibadah haji tak boleh tawar-menawar.'' Aku pun duduk.

''Balikkan mukamu ke kiblat,'' katanya mengajarkan, melihat aku duduk tanpa menghadapi kiblat. Setelah perintahnya kulakukan, aku ingin ia mulai mencukur dari bagian kiri. Tetapi dia berkata, ''Putarkan kepalamu ke bagian kanan.'' Kuputarkan kepalaku. Sementara dia sedang mencukur aku duduk diam saja, membisu. Tetapi dia berkata lagi, ''Bertakbirlah.'' Aku pun bertakbir. Sesudah selesai, aku berdiri, akan pergi. Tetapi dia masih bertanya, ''Mau ke mana?''

''Akan pergi,'' jawabku lugu. ''Salat dulu dua rakaat. Setelah itu, pergilah,'' perintahnya. Apa yang kualami ini tak mungkin keluar dari pikiran orang tukang cukur seperti ini. Lalu kutanyakan kepadanya, ''Semua yang Anda perintahkan kepadaku itu, dari mana Anda belajar?'' ''Aku melihat Ata' bin Abi Rabah melakukan semua itu.'' Memang, dalam bercukur harus dimulai dari bagian kanan, kemudian ke kiri dengan menghadapi kiblat, bertakbir, dan sesudah selesai, salat.

Source : http://www.republika.co.id/berita/18361.html

Selasa, 30 Desember 2008

Terjemah Al Hadiid : 16





“Belumkah tiba masa bagi para mu’min untuk menundukkan hati mereka dalam mengingat Allah dan (menundukkan pula hatinya) kepada kebenaran yang telah turun, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Faith





Suatu ketika saya berdiskusi dengan seorang sahabat mengenai berbagai alam yang akan dilalui ruh yang kurang lebih seingat saya deskripsinya demikian (mohon maaf bila ada kekhilafan). Saat itu agak sukar untuk saya memahami secara logis bahwa ruh dapat bertukar tempat dengan begitu mudah melewati berbagai dimensi tanpa meninggalkan bekas sedikit pun di dimensi yang ia tinggalkan. Bagaimana ruh dapat keluar dari jasad dan apakah kehidupan kubur itu ada, serta kekekalan surga dan eksistensi neraka.

Awalnya sahabat saya memberikan ayat : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (TQS Al A'raaf 172)

Kemudian ia berkata pada saya “ Eh, kamu paham itu kita punya ruh sudah ada sebelum kita tempati ini jasad, betul?” Saya mejawab “Ya, itu yang Allah bilang di Al Quran”. Ia melanjutkan,” sekarang saya tanya kamu, kamu ingat apa yang terjadi dulu sebelum ruh kamu masuk menempat jasad ini?” Saya mejawab “Tidak”.

Beliau melanjutkan pertanyaannya,”Mengapa kau tak ingat?”. Saya diam sejenak dan berkata sekenanya, “itu kehendak Allah”. Beliau pun balik menjawab “ berarti Allah berkuasa sepenuhnya atas ruh kamu bukan? Berarti jika demikian kamu punya kehidupan sebelum ini bukan?” Saya mejawab “Ya”. “Sekarang jika kamu lupa kalau kamu pernah hidup di alam ruh sebelum ditiupkan ke rahim ibu di dunia, apa lantas kamu menyatakan alam itu tidak ada padahal kamu sudah melalui kehidupan sebelumnya disana lantas Allah hilangkan ingatanmu tentang itu?” Saya mejawab “Tentu tidak”.

Beliau menyambung argumennya ,”Jika demikian bukan berarti hal yang terlupakan atau tak terindra itu tidak ada khan? Lihatlah udara, siapa yang bisa pegang? Cahaya juga, tapi kenapa orang percaya dua benda itu ada?” Saya mejawab “Karena manfaatnya dapat dirasakan”. Beliau melanjutkan, ”Nah itu yang saya maksud, kau baru dapat menelaah hal-hal yang ghaib ketika jiwamu bersih. Ingat, seandainya manusia tahu, dosa itu amat busuk baunya hingga malaikat-makaikan enggan dekat dengan pendosa. Ia menutupi hati manusia menjadi hitam dan lepas dari cahaya Allah. Bersihkan hatimu dari dosa, maka cahaya Allah akan membimbingmu. Perasaanmu yang tajam akan membawamu mengenal Allah melalui kesempurnaan iman dan itu hanya datang ketika kau mempercayai bahwa yang tak terlihat tak selamanya tidak ada. Ingat, bukankah Allah Maha Kuasa? Siapa yang menghubungkan jiwa setiap insan hingga muncul kasih sayang? Bukankah kasih sayang itu ghaib?” Saya mejawab” Ialah Allah.”

Terjemah At Tahriim, Surah 66 Ayat 8











Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersamanya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sembari mereka berkata: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Selasa, 04 November 2008

Cure of Broken Path


Bismi Allah ar Rahmaan ar Rahiim,


Ketika semua telah hilang, dirimu gelap tanpa terang..

Ketika hawa menarik cengkeram, ruhmu lari hindari legam..


Namun kau terjembab..

Kau jatuh ke jurang..


Kubur-kubur telah menunggu,

Di masa lalu & masa depan..


Penghuninya ayah-ayahmu,

liang kosongnya untukmu kemudian..


Hawamu melalaikan, bak rantai iblis yang menjerat..

Ia datang & lilit hatimu,

menyeretmu jauh hingga kau sesat..


iblis berpesta pora..

iblis tertawa sombong..


melihatmu jatuh..

mereka bahagia..


Dan kau menangis sendu..

ratapi kelalaian..

menunggu kematian..


Tiba-tiba, cahaya itu terpercik dari langit,

dan ia semakin berkilau..


Itu tanganNya untukmu..

Allah-mu telah datang..


Tatapanmu yang gelap kini berubah dengan sinar Al Quran..

Hari-harimu yang kelam kembali terang dengan mentari hudan..


Buka dan baca,

baca ia dalam agung namaNya..


Kembalilah hai jiwaku yang legam,

kembalilah pada Al Quran..


“dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Terjemah At Taubah, 9:118

Moga bermanfaat,

Wassalamu’alaykum.


Inshiraa, Allah menyimpan hikmah di balik segala sesuatu... © 2008. All rights reserved. Our materials may be copied, printed and distributed, by referring to this site.
www.inshiraa.co.cc


Never Ignore The Pure Love


Saat kau terlambat untuk shalat karena kesibukanmu terlalu menyita waktumu..

Ketika suatu saat kursi kantor atau kelasmu menjadikan kau lupa dengan para fakir yang tak pernah merasakan nikmat hangatnya ruang beratap..

Ketika suatu saat kau makan di restoran dengan bahagia bersama teman-teman sejawatmu namun kau acuh terhadap pengemis yang padamu menengadahkan tangan..

Ketika suatu saat kau sedang asyik chatting dengan teman mayamu dan kau larut dalam untaian kata-kata tak bermakna..

Ketika di hari yang sama ternyata kau begitu lelah dengan duniamu hingga esoknya subuhmu kau kerjakan di waktu dhuha..

Atau ketika pertikaian dengan rival politikmu membuat kau mengacuhkan khabar gelandangn yang tergeletak sakit dpinggir jalan merintih kejang..

Ketika itu datang seseorang yang menyapamu dengan petunjuk,namun ternyata kau acuhkan.

Dan kau berkata,"lihatlah,aku ini sedang berjuang"..

Apa yang sebenarnya kau perjuangkan,saudaraku?

RidhaNya ataukah egomu?

Bagaimana jika saat itu bukanlah seseorang yang remeh sepertiku yang datang kepadamu namun ia RasulUllah?

Apa yang akan kau katakan padanya?

Akankah kau merasa cukup berkata,"Maaf baginda,aku lalai & lupa"?

Seandainya ia mengetahui perangaimu,betapa sedih kau iris hatinya..

Padahal saat maut meregang ruhnya,ia berkata"Ummati..Ummati..Ummati.."

Dan kaulah salah satu yang dipanggilnya..

Dirimu,saudaraku..

Berkhianatkah akan kau pada ketulusan niatnya?

Tak meneteskah air matamu melihat kenyataan hidup yang diperjuangkannya?

Semoga Allah membuka hatimu & hatiku,saudaraku...


Wassalamuålaykum.


Inshiraa, Allah menyimpan hikmah di balik segala sesuatu... © 2008. All rights reserved. Our materials may be copied, printed and distributed, by referring to this site.
www.inshiraa.co.cc

Rainbow


BismIllah,

Saudaraku, kadang kita lupa untuk menarik pelajaran dari pelangi..

Pelangi berwarna-warni dalam keindahan, berbeda dalam harmoni tapi satu dalam gugusan..

Pun demikian, ingatlah bahwa warna adalah spektrum hasil divergensi dari cahaya putih,sejenis spesifikasi sebuah fitrah. Ketika kita ingin menjadikan pelangi kembali satu dalam jalinan putih, maka tariklah garis lurus mengundur kepada fitrah awal dimana cahaya itu timbul..

Memang berat untuk menerima sebuah sudut pandang baru bagi setiap manusia,namun itulah yang dalam Islam kita kenal dengan transformasi aqidah,kembali pada fitrah diin yang hanif. Tugas berat itulah yang diemban RasulUllah SAW sepanjang hidupnya..

Jika merah tetap merah & biru tetap biru maka peradaban Islam saat itu tak akan terbentuk..

Quran mengembalikan warna-warna tersebut menjadi kembali putih,bersih & fitrah.

Itulah aqidah yang lurus..

Itulah taqwa & tawakkal..

Itulah marifatUllah..


Inshiraa, Allah menyimpan hikmah di balik segala sesuatu... © 2008. All rights reserved. Our materials may be copied, printed and distributed, by referring to this site.
www.inshiraa.co.cc

Sabtu, 25 Oktober 2008

The Words




Ketahuilah, wahai ulama!


Janganlah berduka atas sikap masa bodoh manusia terhadap ilmu yang kau miliki & sedikitnya bayaran yang diberikan kepadamu.Karena bayaran atau penghargaan dunia adalah sesuai dengan kebutuhanmu,bukan sesuai dengan tingkat kebaikn diri.Penghargaan atas kebaikan diri akan diberikan di akhirat kelak.Tidak diperkenankan bagimu menjualnya dengan harga murah demi kekayaan palsu dunia ini.

Ketahuilah,hai para penulis & dai yang menyapa manusia melalui media!

Kau harus bersikap rendah hati & leluasa menyuarakan kekurangan permintaan maafmu. Namun,kau tak berhak membanggakan dirimu & menyampaikan satu hal yg bertentangan dengan tanda-tanda Islam. Tak ada seorang pun yang diperbolehkan mencela dengan penuh kecurigaan terhadap seluruh umat Islam bahwa mereka telah menyimpang dari simbol-simbol Islam. Orang-orang yang mempublikasikan hal-hal semacam itu disebut pengajak kepada kesesatan.

Book of Quran Commentary,
Risalah An Nur vol.1 : Epistomes of Light
By : Said Nursi Badiuzzaman

www.saidnur.com

Kau hidup diantara dua kuburan. Masa lalumu adalah kubur ayah-ayahmu & masa depanmu adalah kubur yang menunggu kau masuk ke dalamnya. Kau dikelilingi dari segala sisi & digiring menuju liang kubur yang sedang menantimu..

Semoga bermanfaat,
Wassalamu’alaykum.

Inshiraa, Allah menyimpan hikmah di balik segala sesuatu... © 2008. All rights reserved. Our materials may be copied, printed and distributed, by referring to this site.
www.inshiraa.co.cc


Kamis, 25 September 2008

Heroes of Love

Bismi Allah ar Rahmaan ar Rahiim,

Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

Terjemah Al A’raaf :199

Islam adalah ajaran yang penuh kedamaian, toleransi dan kelembutan. Ia dijadikanNya sebagai satu-satunya jalan yang bercahaya yang harus dilalui oleh siapa pun yang mendambakan kebaikan. Islam adalah agama yang mengangkat derajat manusia ke tingkat tertinggi dalam moralitas dan akhlak. Kebijaksanaan dan keimanan adalah dua pokok fondasi ajaran Diin ini. Tak dapat dikatakan sempurna keimanan seseorang melainkan ia telah mengintegralkan dalam dirinya akhlak yang Allah tuntunkan baginya di dalam Al Quran.

Akhlak Al Quran menyentuh sisi terdalam jiwa setiap manusia dengan kelembutan dan kasih sayang, ia mengajarkan manusia untuk tunduk dan sepenuhnya mengabdikan hidupnya pada kebijaksanaan sejati. Mengerjakan kebajikan, menganjurkan orang lain dalam berlaku baik serta menjauhkan diri dan orang lain dari hal-hal yang mendatangkan kemudharatan adalah anjuran utama bagi setiap manusia yang menundukkan dirinya kepada kehendak Allah. Mereka itulah orang-orang yang beriman.

Al Quran mendidik setiap mu’min agar bertakwa kepada Allah, mengerjakan kebajikan dan menghindari kemunkaran. Dalam suatu ayat Allah berfirman :

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Terjemah An Nahl : 90

Seorang mu’min sejati adalah ia yang mencerminkan akhlak Al Quran di dalam prilakunya secara utuh. Ia tidak berkata dan berlaku melainkan atas petunjuk Allah, pikirannya tercurahkan hanya kepada urusan yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, dan pola sikapnya senantiasa mencerminkan nilai kebajikan di dalamnya kepada siapa pun, tanpa melihat agama, status sosial mau pun keturunan. Hidupnya ia serahkan sepenuhnya untuk tunduk kepada takdir Allah dan Allah selalu ada di dalam benaknya. Segala tingkah lakunya semata ia lakukan dalam mencari keridhaan Allah. Kebaikan selalu memancar dari raut wajahnya dan setiap tindakannya penuh dengan toleransi dan kasih sayang. Pola pikirnya yang penuh altruisme dan keikhlasan menjadikan setiap pemikirannya jernih dan ia dapat menjadi solusi untuk setiap permasalahan hingga dirinya menjadi patron yang bersinar bagi orang-orang di sekitarnya. Karakter mu’min seperti ini digambarkan oleh Allah pada ayatNya yang agung :

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”

Terjemah Ali Imran : 114

Setiap mu’min adalah pahlawan bagi orang-orang disekitarnya. Mereka adalah penegak keadilan dimana pun mereka berada. Mereka berani untuk menyatakan kebenaran namun bijak dalam penyampaian. Kebijaksanaan dan keadilan yang telah Allah tanamkan dalam jiwanya menjadikannya dirinya teladan untuk manusia lainnya di sepanjang hidupnya.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Terjemah Al Maidah : 8

Allah mencintai orang-orang yang terus mengolah jiwanya dalam kondisi yang demikian dan Ia kagum dengan mereka yang mengimplementasikan nilai-nilai terpuji Al Quran dalam hidup mereka. Mereka itulah para pahlawan yang memperjuangkan ridha Allah dalam hidupnya, betapa indahnya hari-hari kehidupan mereka bersama Allah. Ia menggambarkan karakter mereka dalam suatu ayat :

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itu adalah golongan yang beruntung.”

Terjemah Al Mujadilah : 22


Inshiraa, Allah menyimpan hikmah di balik segala sesuatu... © 2008. All rights reserved. Our materials may be copied, printed and distributed, by referring to this site.

www.inshiraa.co.cc




Minggu, 14 September 2008

Humanoid

Ahmed Hulusi

Tanda-tanda rahmat dan kemurahan Allah pada suatu kaum adalah bahwa "pengurus" mereka adalah di dalam kelas "manusia". Tanda-tanda dari kegusaran dan Jalal Allah pada suatu kaum adalah bahwa "pengurus" mereka adalah di dalam kelas "seperti manusia".

Kaum-kaum itu akan menuntut "pengurus" mereka dengan bahasa mereka dan Allah akan menanggapi sesuai dengan permintaan mereka...

Allah Yang Maha Esa yang menciptakan bunga mawar dan kaktus dari bahan yang sama bersama-sama di atas bumi dan juga dengan cara yang sama menciptakan " manusia" dan "humanoid" dalam bentuk yang berbeda dari bahan yang sama di atas bumi,!

"Humanoid" diciptakan untuk berada di neraka selamanya, dan "manusia" diciptakan sebagai mahluk hidup dimensi surga!

Kelihatannya, keduanya tidaklah terlalu berbeda satu sama lain jika dipandang dari badan mereka!

Tergantung dari waktu dan tempat, perilaku mereka yang tidak perlu, memberikan gambaran tentang siapakah dia!

Bagaimanapun, hasrat binatang terhadap daging dalam seseorang seperti halnya ketidakmampuan untuk berbalik ke dimensi kesadaran dengan mudah sebagai tambahan terhadap tiruan, penderitaan berlebihan, penguasaan, sikap menekan, menyiksa, menjauhkan orang lain dari sifat-sifat "manusia" seperti refleksi tanya jawab dan pertimbangan, dan memandunya ke peniruan, dll., dapat menjadi tanda suatu "humanoid"!

Sebagian besar "humanoid", yang sudah mengadopsi Islam melalui peniruan di bawah pengaruh dari keadaan lingkungannya dan yang tanpa disadari menjadi ekstrim, dan memperlakukan orang dengan brutal seperti binatang!..

Janganlah diremehkan bahwa ada banyak sekali agen provokator "humanoid" di dunia ini yang ingin mencoreng muka "Din Islam". Di depan orang lain, ini adalah selubung untuk "manusia" yang sudah benar-benar memeluk dan mengerti "Islam". Dan tidak ada perbaikan untuk yang diciptakan bukan sebagai "manusia"!

Recomended Links :

www.inshiraa.co.cc
www.harunyahya.com
www.saidnur.com
www.fgulen.com
www.ahmedhulusi.org
www.asysyariah.com

Minggu, 07 September 2008

Heaven Language




“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayat-ayat (keagungan Allah) bagi orang-orang yang beriman.“
An Nahl 16:79


Dari zaman Adam diturunkan ke bumi, Islam, agama tauhid yang Allah ajarkan kepada manusia, tidak pernah memaksakan siapa pun untuk menyimpang dari kebenaran, namun sering kali kekuatan keingkaran selalu memaksakan seorang yang beriman untuk meninggalkan agama dan keimanannya. Tak ada seorang pun dari golongan orang beriman yang berusaha memaksa seorang kafir untuk menjadi muslim, sedang orang-orang kafir terus berusaha menjadikan seorang yang beriman meninggalkan keimanannya.

Sebagian orang bertanya ; ”Bagaimana saya hidup dalam lingkungan orang yang tidak beriman sementara saya ingin menjaga keimanan saya?” atau ; “Saya hidup dikalangan orang yang tak mempedulikan nilai moral agama, mereka hanya menjadikan itu sebagai sebuah diskursus yang jarang diperbincangkan. Adakah saya akan mendapat petunjuk dalam kondisi saya ini?”. Bimbingan dalam menjalankan keimanan sesungguhnya telah jauh Allah bekalkan sejak kita mulai mampu untuk berpikir akan ayat-ayatnya. Kecenderungan manusia untuk menyadari hal ini telah menjadi fitrah yang dimiliki setiap jiwa dan didukung oleh kebijaksanaan akalnya dalam menangkap kebenaran. Jika kita menelaah dalam persepsi yang lain, maka Al Quran mendeskripsikan hal ini dalam berbagai pertanyaan retoar “Apakah kamu tidak memikirkan?”, “Apakah kamu tidak menyaksikan?”, “Apakah kamu tidak menyadari?”.

Ayat-ayat Allah dalam pemaparan yang lebih luas tidaklah hanya terbatas pada pemahaman tekstual yang berarti Al Kitab ( Al Quran) yang telah Allah turunkan dari langit melalui lisan nabiNya yang diberkahi, Muhammad SAW, perkataan Nabi SAW dan beberapa kitab nabi-nabi sebelumnya. Dalam konteks padanan makna ayat-ayat Allah, ia juga dapat diartikan sebagai tanda-tanda Allah yang tersebar di seantero bumi dan di segenap penjuru langit. Jika kita telah memperluas wacana ini pada hal yang demikian, pemahaman dalam topik ini akan cenderung membuat kita banyak untuk berpikir bahwa ternyata Allah tidaklah meninggalkan kita begitu saja tanpa tuntunanNya selain dalil yang tekstual, Al Quran dan Sunnah NabiNya.

Allah dengan mesra menebarkan setiap ayatNya di alam semesta, pada setiap desiran angin di bumiNya, pada pergantian malam dan siangNya, dan pada hembusan nafas hambaNya. Bahkan pada kesedihan atau pun kebahagiaan yang kita rasakan, Allah sisipkan kelembutan KasihNya agar kita menyadari bahwa sebenarnya Allah begitu dekat dengan kita, ia tidak pernah meninggalkan kita.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” Al Baqarah 2:186.

Ayat-ayat Allah selalu Ia sebarkan di setiap liku galaksi, di setiap palung lautan hingga sudut terdalam hati manusia. Allah ilhamkan kepada setiap jiwa akan kebenaran hal ini pada hatinya “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.Asy Syams 91:8.

Jika seseorang mau untuk jujur pada nuraninya untuk tunduk pada kebenaran, maka niscaya ilmunya akan mengatakan bahwa di setiap saat dalam hidupnya ia sedang terus-menerus membaca ayat-ayat Allah di alam semesta. Bagi seseorang yang sadar akan kadar dirinya yang hina dihadapan Tuhannya, ia akan dengan mudah mendapatkan petunjuk dengan membaca tanda-tanda kebesaran Allah bahkan pada setiap musibah atau kesedihan yang Allah ujikan kepadanya. Betapa indahnya jikalau seorang hamba dapat belajar memahami bahasa menakjubkan kitab alam raya ini yang huruf-hurufnya tersusun pada peredaran awan, kadar hujan dan warna-warni bunga pada musim semi. Keteraturan sistem kitab ini menunjukkan betapa Allah telah menjadikannya sebuah tatanan sempurna tanpa cela.

Mengutip perkataan FethUllah Gülen : Tatanan yang seimbang, adanya hubungan yang rumit, dan dinamisme yang dihasilkan (alam semesta) tidak dapat dengan mudah dinisbahkan kepada suatu kebetulan. Logika menyatakan bahwa ada satu Wujud tertinggi yang menciptakan dan memelihara (kesempurnaan sistem).

Maha Besar Allah yang memenuhi setiap relung langit dan bumi dengan petunjuk bagi manusia. Maka, jika seseorang telah menyadari ayat-ayat Allah di sekitarnya, dan ia membiasakan jiwanya untuk membaca dan berbicara dengan bahasa langit, maka tak ada satu alasan logis pun untuk menyatakan kesepiannya dihadapan manusia. Allah akan selalu ia rasakan hadir disisinya, menemaninya setiap saat, menuntun dan menjalin kasih sayang dengan dirinya.

Ialah Allah yang Agung.

Maha Suci Allah dari hambaNya yang dhaif.
Shalawat dan kedamaian semoga Allah limpahkan pada NabiNya SAW dan keluarga.


Wassalamualaykum wa rahmatUllah.


Inshiraa, Allah menyimpan hikmah di balik segala sesuatu... © 2008. All rights reserved.
Our materials may be copied, printed and distributed, by referring to this site.
www.inshiraa.co.cc


Surrender...



Setiap yang berawal pasti memiliki akhir...
Setiap yang datang pasti akan pergi...
Setiap momentum akan menghasilkan vektor...
Begitu pun setiap kejadian di dunia ini, ia akan selalu mengalami kenaikan entropi...

Alam raya bersudut liku begitu rumit, namun ia harmonis dalam sistem Allah yang sempurna. Keteraturan bulan mengelilingi planet, menjadikannya utama dalam ibadah kaum muslim di setiap Ramadhan. Keteraturan kontinen saling berisostasi, menjadikannya penting agar bumi tidak bergolak.
Kerusakan pada satu proporsi ini hanya akan menimbulkan kiamat-kiamat kecil yang bersambung. Bak kartu domino yang tersusun berjajar, gerakan dunia konstan menuju kekacauan!

Namun Allah Maha Sempurna dalam Kasih Sayang PemeliharaanNya, Ia berikan petunjuk pada menusia untuk hidup sesuai dengan sunnahNya yang fitrah :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Ar Ruum 30:30

Maka tak salah jika seseorang menyatakan ; hidup dalam kesadaran kosmis adalah hidup dalam keesaanNya. Kelihaian pengamatan tatanan mikro sama halnya mengenali kesempurnaan sunatUllah di alam raya, hal ini karena setiap mikro kosmos mewakili model makro kosmos dan mereka semua adalah cermin ketunggalan Penciptanya yang tulus, Allah subhana wa ta’ala.

Sebagaimana DNA membawa kode genetik yang digunakan untuk produksi protein sel itu sendiri, ia juga berfungsi untuk menurunkan informasi pada jaringan yang terbentuk dari replikasi dirinya. Pemaknaan informasi tunggal yang berasal dari satu DNA menghasilkan sebentuk individu yang terorganisir kompleks dalam diferensiasi fungsi dan struktur sel penyusunnya dan kerusakan pada kode gentik sel hanya akan menimbulkan kerusakan pada sistem individu itu baik secara makro mau pun mikro.

Harmoni alam semesta dan manusia tak jauh berbeda dengan hal ini, penyimpangan dari keimanan pada takdirNya bukan hanya merugikan dirinya sendiri namun akan merusak proporsi agung yang telah Allah gariskan untuk kita, hambaNya. Ketaqwaan kepada Allah bagai sebuak kunci untuk menjaga keseimbangan ekologis alam mikro manusia atau pun menjaga kita dari kerusakan sistem makro alam angkasa.

Ayat-ayat Allah, Ia tebarkan diseluruh penjuru alam kosmis dan manusia menjadi sejenis huruf penyusun kalimat-kalimatNya yang Agung ini. Begitu pula dengan seluruh materi di alam ini, mereka bak cermin yang memantulkan Cahaya keesaan Allah. Sebuah kitab yang terpelihara telah menuliskannya demikian.

Maha Suci Allah Sang Pemelihara...
Shalawat dan kesejahteraan atas kekasihNya, Muhammad shalaAllah alayhi wa salaam dan keluarga.
Amin.

The Portrait of People of Heart


Fethullah Gülen

www.fgulen.com

Tuesday, 03 August 2004

With their vision, faith, and deeds, people of heart are integrated heroes of both spiritualism and meaning. Their profundity relies not on their knowledge or acquisitions, but on the richness of their hearts, the pureness of their souls and their closeness to God. They believe that the principles presented to humanity in the name of knowledge are valuable only if they lead humanity to the truth. Similarly, they regard information, and especially abstract knowledge that has no practical uses, as being insignificant, as they do not assist human beings to understand the reality of the creatures, the matter and human beings themselves.

People of heart are monuments of humility and modesty who are devoted to a spiritual life, determined to stay away from all the material and spiritual dirt, always vigilant to corporeal desires of the body, and ready to struggle with such evils as hatred, resentment, greed, jealousy, selfishness and lust. They always endeavor to give what is right the highest esteem, to convey to others what they feel about this world, as well as the next, and they are always patient and cautious. People of faith and action who, rather than talking and making noise, live as they believe, present an exemplary personality for others. Such people move on, never pausing, teaching those who are walking toward God how to do so. Inside, they have a pyre that can never be extinguished. Yet, in order not to disclose this painful burning inside, such people never complain to others. As such, they are constantly emitting heat to the spirits of those who seek shelter in them.

A longing for the transcendent realms is evident in the eyes of people of heart. Dedicated to the consent of God, they are such people of progress and of struggle with distances that they run like a purebred Arabian steed until they reach their Beloved One, without expecting, in the meantime, anything in return.

People of heart are such sincere adherents of the truth that all they think of is to stabilize the justice on Earth and they are willing, when it comes to His consent, to give up their own desires and wishes. They open their hearts to everyone, welcoming them affectionately, and appearing as an angel of preservation in society. Regarding their deeds and attitudes, they try to be compatible with everybody, they try to avoid vicious competition with others, and they avoid resentment. Even though such people make choices from time to time in favor of their convictions, beliefs, methods and ways, they do not compete with others. On the contrary, they love all who serve in the name of their religion; they love their country and their ideals. Furthermore, they give generously to other people in pursuit of positive activities and they try to show as much respect as possible to the philosophy and ideas that other people adopt.

Along with such endeavors and activities, people of heart who are seeking ways to incur His help also give utmost importance to God's aid and assistance. They pay particular attention to union and solidarity, which are considered a means of God's aid. They are ready, wholeheartedly, to cooperate with anybody who is on the straight path. Moreover, for such an understanding of union, they, in spite of themselves, follow a path. Believing that union incurs mercy, and dissension and disunion lead nowhere, such people do their best to gain the help and good will of all, ever receptive to showers of Divine aid.

People of heart are lovers of God, and devoted seekers of God's consent. They connect their deeds to His pleasure, regardless of the circumstances. They display great ambition to please Him, and are willing for the sake of this purpose to use or abandon all that they possess—of this world or not. There is never any room in the realm of their thoughts for unpleasant expressions like "I did it," "I succeeded," or "I managed it." Such people take pleasure in the fulfillment of the tasks of others, as if they had carried such actions out themselves, they take the same amount of pleasure in such achievements as if it were their own and they follow humbly after these people, leaving also the honor and the title of leading to them. What is more, as they consider others to be more eligible and successful in serving religion and humanity, they provide other people with more comfortable facilities, and, taking a step back, continue in their service as an "ordinary person."

People of heart are too busy fighting their selves and their misdemeanors to be interested in the misdeeds of others. In contrast, they set an example to others of what a good person should be, leading others to attain higher horizons. They turn a blind eye to what other people may do wrong. Responding with a smile to those who have displayed negative attitudes, such people nullify bad behavior with kindness, not thinking to hurt anybody, even when they have been hurt over and over again.

For the man of heart, a soldier of the reality that has been devoted to gaining God's good pleasure with feelings, ideas and deeds, the first priority is to lead a life based on perfect faith and equipped with sincerity. Thus, it is unlikely that such a person will be dissuaded from reaching their goal, even if they were offered the heavens in addition to the world.

People of heart never compete with those who bear the same ideals and who walk on the same path, nor do they envy them. In contrast, they complete what has been left incomplete by others, and, when interacting with other people, they treat them as if they were as closely connected as organs of the same body. With a complete understanding of renunciation, pushing their counterparts into the limelight, in every earthly as well as unearthly matter, they withdraw to the background. They act as spokespersons for the accomplishments of others, applauding them and welcoming their achievements with the same joy that they feel on a festival.

Relying to a great extent on method and manner, people of heart conduct all of their acts in accordance with their nature. They try, however, to remain respectful to the acts and thoughts of others. They are able to live harmoniously and to share, developing common projects. They struggle to replace the word "I" with the word "we." Over and above all this, they sacrifice their happiness for that of others. In so doing, they never expect any appreciation or respect from anyone. They even think that such expectations are a form of moral corruption and, thus, they avoid appearing in the limelight, they avoid fame and fortune, much as they would a snake or a scorpion, hoping only to be soon forgotten.

People of heart do not violate the rights of any other people, nor do they seek revenge. Even in the most critical circumstances, they tend to behave calmly, and do whatever a person of heart should do to the utmost. They always reply to evil acts with kindness, and, considering badness to be a characteristic of evil, treating those who have harmed them as monuments of virtue.

People of heart lead a life illuminated by the light of the Qur'an and the Sunna, and also within the framework of the consciousness of taqwa (piety), blessing, and sainthood. They are on constant guard against feelings of egoism, pride, fame, etc., feelings which kill the heart. The glories performed by such people are attributed to the Real Owner, saying, "All is from Him." With those things that depend on will power, they avoid uttering "I," instead taking refuge in "We."

People of heart are afraid of no one. No single event can send them into a panic. "Relying on God, he works hard, expecting the rest from His aid," sums up their character, and they never break their promise.

People of heart never lose their temper with anybody, nor are they offended by those whose hearts are attached to God. When they see any of their brothers or sistersinreligion doing wrong, they do not abandon them. In order to avoid embarrassment they do not make any wrong-doing publicly or personally known, either. On the contrary, they blame and question themselves for witnessing any immoral act.

People of heart avoid commenting on the attitudes of believers that are apt to be interpreted differently. They think positively of what they see and hear and never perceive such actions as being negative.

In every act and deed, people of heart keep in mind that here, this world, is not a place of reward, but rather one of service. Accordingly, they perform the duties that they are responsible for in strict discipline, regarding it as being discourteous to God to be concerned about the consequences. They consider it a priority to perform actions in the name of God and with God's consent in order to serve the religion, belief, and humankind, and however great their achievements may be, they attribute all to God, without thinking about taking a personal share for themselves.

The destruction of order cannot leave people of heart in despair, nor does the opposition of other people disturb them. "This world is not a place for conflicts or rows, but one for endurance," they say, and patiently clench their teeth. They seek ways out of any situation that they may find themselves in, not losing hope even at the most critical of times, and they are constantly producing with adamant perseverance multifarious strategies. Today, when we find that human values are despised, when there are cracks appearing in religious thinking, when every place resounds with the disturbance caused by the carefree ones, we need people of heart as much as we need air to breathe and water to drink.

Biografi Singkat Said Nursi


Kekaguman Zaman (Badiuzzaman)

Badiuzzaman Said Nursi dilahirkan pada tahun 1873 di kampung bernama “Nurs”, di timur Anatolia. Nama “Nursi” ialah sempena nama kampung ini. Beliau menerima pendidikan asas daripada para ulama terkenal di daerahnya. Ketika masih muda, beliau telah menunjukkan kecerdikan dan kemampuan yang luar biasa untuk belajar. Hal ini membuatkannya terkenal di kalangan guru-guru, kawan-kawan dan orang ramai. Ketika berusia 16 tahun, beliau mengalahkan beberapa ulama terkemuka yang telah menjemputnya ke satu majlis perbahasan (ketika itu perbahasan ialah satu amalan biasa di kalangan ulama). Kemudian beliau terus mengalahkan berbagai kumpulan ulama lain sebanyak beberapa kali dalam majlis perbahasan. Selepas peristiwa ini, beliau pun digelar Badiuzzaman (Kekaguman Zaman).

Pengalaman pendidikan yang telah beliau lalui telah membukakan fikirannya untuk memikirkan cara untuk menghasilkan sistem pendidikan yang bersepadu. Ketika itu, dunia sedang memasuki satu zaman baru yang membawa angin perubahan. Satu zaman di mana sains dan lojik memainkan peranan penting. Beliau berpendapat ilmu agama perlu diajar di sekolah-sekolah moden dan sekular, sebaliknya ilmu sains moden pula perlu diajar di sekolah-sekolah agama. Katanya, “Dengan cara ini, para pelajar di sekolah moden dilindungi dari kekufuran dan para pelajar di sekolah agama akan dilindungi dari sikap taksub”.

Dalam usaha merealisasikan cita-citanya, beliau telah pergi ke Istanbul sebanyak dua kali. Kali pertama adalah pada tahun 1896 dan kali keduaya adalah pada tahun 1907. Beliau cuba meyakinkan Sultan Abdul Hamid agar membina sebuah universiti di Anatolia yang mengajar ilmu agama dan ilmu sains secara bersepadu.

Ketika bercakap dengan Sultan Abdul Hamid, Badiuzzaman menggunakan bahasa yang agak kasar sehingga menyebabkan beliau dibicarakan di mahkamah tentera. Di mahkamah tentera pula, beliau masih menggunakan bahasa yang sama. Lantaran terkejut dengan hal ini, para hakim mahkamah tentera telah menghantarnya ke sebuah hospital sakit jiwa untuk diperiksa. Walaubagaimanapun, doktor yang memeriksanya melaporkan “Jika Badiuzzaman gila, maka tidak akan ada seorang manusia siuman pun di dalam dunia ini”. Dengan ini, beliau pun dibebaskan.

Kebebasan Pertama

Sering kali Badiuzzaman menjadi sasaran tuduhan (fitnah) yang bertentangan dengan niat dan cita-citanya. Ketika berlakunya pemberontakan Mac 31, 1909, beliau telah ditangkap dan dibicarakan di mahkamah tentera atas tuduhan mencetuskan kekacauan. Sebenarnya, beliau telah cuba mententeramkan keadaan dan telah berjaya melakukannya pada sesuatu peringkat tertentu. Ketika mayat-mayat orang yang dihukum gantung masih di tiang gantung di luar tingkap mahkamah, Badiuzzaman telah berjaya berhujah mempertahankan diri dan akhirnya telah dibebaskan.

Selepas itu, beliau kembali ke Timur Anatolia dan melawat kawasan-kawasan terpencil untuk menerangkan kepada rakyat bahawa gerakan pembebasan yang sedang ditubuhkan di Turki tidak bertentangan dengan Islam. Beliau telah memberitahu mereka bahawa semua bentuk pemerintahan kuku besi (diktator) ditolak oleh undang-undang Islam. Perundangan Islam akan berkembang dan menunjukkan kemuliaannya di dalam suasana yang bebas merdeka. Kemudian beliau telah mengumpulkan syarahan-syarahannya itu di dalam sebuah buku bertajuk Perbahasan.

Pada musim sejuk tahun 1911, Badiuzzaman pergi ke Damsyik untuk menyampaikan khutbah di Masjid Umayyad. Para pendengarnya termasuklah 100 ulama yang terkenal. Dalam ceramahnya, beliau berkata bahawa tamaddun sebenar yang berada pada Islam akan berdiri tegak di dunia moden ini. Selepas itu, beliau pergi ke Istanbul sekali lagi untuk meneruskan usahanya agar sebuah universiti didirikan di Anatolia Timur. Badiuzzaman merupakan wakil bagi timur Turki yang mengiringi Sultan Muhammad Resyad melawat Rumelia (daerah Balkan). Ketika di Kosovo Metohija, di mana Sultan bercadang untuk membina sebuah universiti, beliau pun berkata, "Kawasan Timur lebih memerlukan sebuah universiti kerana ia merupakan pusat Dunia Islam." Beliau berjaya meyakinkan Sultan Muhammad Resyad agar menyediakan peruntukan sebanyak 19,000 lira untuk tujuan itu. Beliau kemudian pergi ke Van dan meletakkan batu asas universiti tersebut. Tetapi malangnya, pembinaan universiti tersebut tidak dapat disiapkan kerana Perang Dunia Pertama meletus.

Dalam Perang Dunia Pertama, Badiuzzaman menjadi pemimpin pasukan sukarelawan di medan perang Kaukasia dan Anatolia Timur. Keperwiraan yang telah ditunjukkan oleh beliau di medan pertempuran mendapat pujian dari para panglima Tentera Turki Uthmaniah, termasuklah Anwar Pansya, Menteri Perang dan Ketua Turus Tentera ketika itu. Pasukannya telah digelar “Pasukan Topi Bulu”. Pasukan ini telah menggerunkan tentera Russia dan pengganas Armenia. Di medan perang inilah beliau telah menulis tafsirnya yang bertajuk “Isyaaratul I'jaz” di dalam bahasa Arab. Karyanya ini ditulis ketika beliau menunggang kuda di barisan hadapan dan di dalam kubu-kubu pertahanan. Tafsir ini kemudianya mendapat penghargaan daripada para ulama terkenal.

Dalam satu pertempuran menentang pencerobohan tentera Rusia, Badiuzzaman dan 90 orang pegawai lain ditawan. Beliau dihantar ke khemah tahanan perang di Kostromaa, iaitu di barat laut Russia dan ditahan di situ selama 2 tahun.

Badiuzzaman pernah dijatuhkan hukuman tembak sampai mati kerana menghina Jeneral Nicholas Nicolavich, Ketua Turus Tentera Rusia di medan perang Kaukasia, yang juga merupakan bapa saudara Czar, Raja Russia. Walau bagaimana pun, hukuman itu kemudianya dibatalkan. Peristiwa itu adalah seperti berikut:

Pada satu hari, Jeneral Nicholas Nicolavich melawat khemah tahanan tersebut dan berjalan di hadapan Badiuzzaman tetapi ulama itu tidak bangun menghormatinya. Bila ditanya mengapa beliau berbuat demikian, beliau lantas berkata, “Saya seorang ulama Islam dan di dalam hati saya ada iman. Sesiapa saja yang ada iman di dalam hatinya adalah lebih mulia daripada mereka yang tiada. Saya tidak boleh bertindak bertentangan dengan iman saya.” Akibat dari peristiwa itu beliau kemudianya dibicarakan di mahkamah tentera dan dijatuhkan hukuman mati. Sebelum hukuman dijalankan, beliau telah sempat bersolat di hadapan pasukan penembak. Jeneral Nicholas Nicolavich melihat kelakuannya itu dan datang kepadanya untuk meminta maaf. Jeneral itu berkata beliau kini telah sedar bahawa Badiuzzaman bertindak demikian kerana ingin berpegang teguh kepada imannya. Beliau pun meminta maaf atas gangguan tersebut. Sungguh sedih sekali kerana penghormatan yang diberikan oleh orang Russia, musuh lama orang-orang Islam tidak ditunjukkan oleh sebahagian orang-orang Turki yang telah menyebabkan beliau menjalani hidup yang penuh dengan berbagai penderitaan.

Kekacauan yang meletus kerana Revolusi Komunis, memberi peluang kepada Badiuzzaman untuk melepaskan diri. Selepas melalui satu perjalanan yang jauh, beliau pun sampai ke Istanbul dalam tahun 1918. Di Istanbul, beliau dianugerahkan sebuah pingat penghormatan atas sumbangannya di medan perang. Anuar Pasya, telah menawarkan kepadanya beberapa jawatan di dalam kerajaan tetapi beliau menolak. Namun begitu, atas cadangan pihak tentera beliau dilantik menjadi anggota Darul Hikmah Al Islamiah tanpa pengetahuanya. Beliau tidak membantah kerana jawatan ini adalah jawatan ilmiah semata-mata.

Semasa negara Turki diceroboh oleh tentera penjajah selepas kalah dalam Perang Dunia Pertama. Badiuzzaman telah menunjukkan penentangan yang terang-terangan kepada penjajah British. Hal ini hampir membuatkan nyawanya melayang. Di antara kata-kata yang ditujukan kepada pihak British yang ditulis di dalam akhbar harian ialah, “Wahai anjing yang dianjingkan ke peringkat anjing yang tertinggi” dan “Ludahlah muka British yang terkutuk dan tidak tahu malu itu”. Lantaran itu beliau menjadi sasaran komplot bunuh pihak British. Dengan pertolongan Allah beliau terpelihara daripada ancaman tersebut dan terus berhadapan dengan tugas dan cabaran-cabaran baru yang sedang ditunggunya.

Dalam tahun 1922, kerajaan Turki telah menjemputnya ke Ankara tetapi beliau menolak. Akhirnya, selepas dijemput sebanyak 18 kali, barulah beliau bersetuju pergi ke Ankara. Beliau disambut oleh Dewan Perhimpunan Kebangsaan (Parlimen Turki) di Ankara dengan penuh istiadat. Walaubagaimanapun, beliau mendapati apa yang ada di Ankara tidaklah serupa dengan apa yang diharapkannya. Kebanyakan para perwakilan di Dewan Perhimpunan Kebangsaan lalai menunaikan kewajipan agama. Pada 19 Januari 1923, beliau mengeluarkan satu kenyataan untuk para perwakilan mengajak mereka menunaikan kewajipan bersolat. Hasilnya ialah, pada mulanya 50 hingga 60 daripada mereka mula menunaikan solat dan kemudiannya angka ini semakin bertambah.

Badiuzzaman menghabiskan masanya selama lapan bulan di Ankara dan kemudian ke Van. Beliau menghabiskan dua tahun di Van dengan mengasingkan diri, beribadat dan berzikir. Sementara itu, satu pemberontakan berlaku di timur Turki. Para pemberontak meminta sokongan Badiuzzaman kerana beliau sangat berpengaruh di kalangan rakyat tetapi beliau menolak dengan berkata, “Pedang hendaklah digunakan ke atas musuh dari luar. Ia bukanlah untuk digunakan di dalam negeri. Hentikan usaha kamu itu kerana ia akan gagal. Ia akan mengakibatkan beribu-ribu orang lelaki dan wanita yang tidak bersalah terbunuh lantaran tindakan beberapa orang penjenayah”.

Sekali lagi Badiuzzaman difitnah dan mengakibatkannya dibuang ke Burdur. Di Burdur, beliau dikenakan pengawasan ketat dan menderita akibat penindasan dari pihak berkuasa. Hal ini langsung tidak menyekatnya dari menyebarkan kebenaran iman kepada orang ramai di sekelilingnya dan mengumpulkan segala hasil penulisannya dalam bentuk buku. Kegiatannya ini telah dapat dikesan lalu dilapurkan ke Ankara dan satu rancangan diatur untuk menyekatnya. Pihak berkuasa kemudiannya menghantarnya ke Barla pula, sebuah tempat terpencil di bahagian tengah Anatolia. Tempat tersebut dikelilingi bukit-bukau dan mereka berharap Badiuzzaman akan mati di situ dalam keadaan tidak bermaya dan keseorangan.

Kemunculan Risale-i Nur (Risalah Yang Bercahaya)

Sebenarnya penyebaran iman bukanlah sesuatu yang perlu dibimbangkan. Berdakwah juga bukanlah satu jenayah yang melayakkan nyawa seseorang diancam. Namun begitu, hal ini dianggap satu jenayah pada ketika itu. Pada masa itu, kezaliman menyelubungi negara Turki dengan segala kegelapan dan kezaliman. Azan telah diharamkan. Beratus-ratus masjid telah digunakan untuk tujuan bukan keagamaan. Perancangan telah dijalankan untuk memutuskan negara Turki daripada zaman silamnya yang terkenal dengan segala nilai-nilai akhlaknya yang mulia. Sesiapa yang bercakap mengenai agama memerlukan keberanian. Ketua Jabatan Percetakan Kerajaan boleh mengarah sidang pengarang akhbar memotong sebarang makalah yang menyentuh isu agama dalam tempoh 10 hari atas alasan merbahaya kerana boleh menyemai konsep agama di dalam pemikiran para belia.

Dalam suasana beginilah Badiuzzaman Said Nursi memasuki bahagian kedua hidupnya yang digelarnya "Said Jadid” (Said Baru). Bahagian kedua dalam hidupnya ini ditumpukan sepenuhnya kepada penulisan dan penyebaran mengenai iman dan Islam. Kebenaran iman ialah kebenaran sejagat yang terpenting. Membangkitkan semula iman dan Islam menjadi matlamatnya apabila beliau berkata, “Saya akan buktikan kepada dunia bahawa Al-Quran ialah matahari rohani yang tidak akan luntur dan tidak akan padam”. Maka itulah yang diperjuangkannya. Badiuzzaman tidak mati keseorangan di Barla tetapi yang muncul ialah “Said Jadid” yang seumpama matahari, menyinari dunia sains dan budaya. Semenjak itulah, beliau telah menyinari berjuta-juta manusia dengan cahaya iman.

Di Barla, pengawasan ketat dan penindasan sedang menunggu Badiuzzaman. Musuh-musuhnya masih belum mengenalinya lagi. Inilah orang yang ditakuti tentera Russia ketika Perang Dunia Pertama. Inilah orang yang sanggup meludah ke muka orang British yang menjajah Istanbul. Inilah orang yang berjaya terlepas dari tali gantung sebanyak beberapa kali. Walau bagaimanapun, mereka kemudian mengenalinya juga apabila terpaksa berkata, “Segala apa yang kami lakukan selama 25 tahun yang lepas tidak berjaya menyekat Said Nursi dari meneruskan kegiatannya”.

Beliau telah menghabiskan hidupnya di Barla selama 8 tahun setengah di bawah penindasan yang dahsyat. Dalam tempoh tersebut, beliau sempat menulis 3 suku daripada Risale-i Nurnya. Tafsirnya ini kesemuanya ditulis dengan tangan kerana pengarang dan para pelajarnya tidak mampu menyediakan belanja percetakan. Sekalipun mereka mampu, mereka tidak diberi kebebasan berbuat demikian. Tugas menulis tafsir ini dengan tangan adalah kerja merbahaya pada ketika itu. Mereka yang melakukannya telah disiksa di dalam penjara dan balai-balai polis. Pada masa yang sama, berbagai usaha dijalankan untuk menyekat orang ramai dari menghubungi Badiuzzaman.

Sebanyak 600,000 naskah ditulis dengan tangan.

Ketika itu penulisan atau penyebaran walaupun hanya 1 karya agama bukanlah sesuatu yang sesiapa pun berani lakukan. Inilah perjuangan berani yang berterusan yang menjadi pilihan Badiuzzaman dan para pelajarnya. Apabila keadaan di mana Risale-i Nur ditulis dan disebarkan ke seluruh Anatolia diambil kira, maka betapa benar kata Maryam Jameelah, “Tidaklah keterlaluan untuk mengatakan bahawa apa saja keimanan Islam yang masih ada di Turki pada ketika itu adalah atas usaha tanpa penat dari Badiuzzaman Said Nursi”.

Mereka yang memahami intipati iman melalui Risale-i Nur mencapai tahap keimanan yang kental sehingga mampu menunjukkan keberanian dan keperwiraan Islam yang hebat. Badiuzzaman, yang mewakili roh Risale-i Nur sendiri telah menjadi pemimpin bagi ratusan ribu pelajar dan kini telah mencapai jutaan pelajar yang menghayati karya tersebut. Beliau menjadi contoh kepada orang-orang Islam lain di Turki ketika itu. Beliaulah penyokong mereka di hari-hari yang penuh bahaya, seumpama seorang ketua tentera yang memberi galakan kepada tenteranya melalui keberanian dan kewibawaannya sendiri. Dengan ini, mereka pun berjaya menghilangkan ketakutan dan syak wasangka dari hati orang ramai dan maruah negara dikembalikan. Mereka telah membawa harapan dari kelegaan dan menyelamatkan orang-orang Islam daripada rasa cemas dan kecewa.

Pada tahun 1935, Badiuzzaman bersama 125 orang pelajarnya telah ditahan dan dibicarakan di Mahkamah Jenayah Eskisehir. Dalam tempoh perbicaraan berlangsung, mereka terpaksa menghabiskan selama 11 bulan di dalam penjara Eskisehir yang penuh dengan penderitaan. Walaupun begitu, mereka masih membawa harapan dari kelegaan dan menyelamatkan orang-orang Islam daripada perasaan cemas dan kecewa.

Badiuzzaman kemudianya dipindahkan ke Kastamonu selama 7 tahun. Di sana, Beliau masih terus menulis dan menyebarkan Risale-i Nur. Oleh sebab beliau dan para pengikutnya tidak diberi kebebasan, mereka telah menubuhkan rangkaian pengirim Risale-i Nur yang dinamakan “Posman Nur” (Nurju). Hasilnya, Posman Nur telah berjaya menyebarkan sebanyak 600,000 naskah Risale-i Nur ke seluruh Anatolia.

Pada tahun 1943, beliau bersama 126 orang pelajarnya telah ditahan dan dibicarakan di Mahkamah Jenayah di Denizli. Kali ini beliau dituduh mencetak secara rahsia satu risalah di Istanbul mengenai kewujudan Tuhan.

Perjuangannya tidak pernah reda sama ada dalam buangan mahupun di penjara. Di dalam penjara, beliau telah bertindak memulihkan para banduan dan penjenayah yang dianggap tidak berguna oleh masyarakat. Beliau juga telah berjaya menghasilkan karya-karya baru walaupun kertas dan pen tidak dibenar masuk ke dalam penjara. Jadi, karyanya ditulis atas cebisan-cebisan kertas yang dikoyak dari kampit-kampit kertas. Karyanya kemudian diseludup keluar di dalam kotak-kotak mancis. Karyanya yang berjudul “Buah-buah Iman” telah ditulis dengan cara ini.

Perbicaraan di Denizli berakhir dengan keputusan beliau dibebaskan sebulat suara. Tetapi ini tidak bermakna beliau telah diberikan kebebasan sepenuhnya. Atas arahan daripada pihak berkuasa di Ankara, beliau pun dihantar ke sebuah bandar lain bernama Emirdag.

Kebebasan yang sudah lewat

Bagi Badiuzzaman, Emirdag juga sama dengan tempat-tempat yang lain. Sekali lagi beliau diawasi, ditindas dan diancam. Namun begitu, beliau terus memperjuangkan iman dan Islam. Tenmpohnya di Emirdag sekali lagi berakhir dengan penangkapanya. Kali ini beliau bersama dengan 53 pelajarnya telah ditahan dan dihantar ke Mahkamah Jenayah Afyon untuk dibicarakan. Beliau dipenjarakan di penjara Afyon selama 20 bulan. Kekejaman di penjara ini adalah lebih teruk berbanding yang lain. Badiuzzaman ketika itu berumur 75 tahun dan sedang menderita berbagai penyakit. Pihak berkuasa telah meletakkannya di sebuah bilik penjara bersendirian yang mempunyai tingkap-tingkap pecah walaupun beliau uzur. Di dalam bilik penjara bertingkap pecah inilah Badiuzzaman menghabiskan dua musim sejuk yang sangat mencabar. Apabila melihat musim sejuk pun tidak dapat membunuhnya, maka musuhnya telah meracuninya (ada pendapat mengatakan beliau diracun sebanyak 19 kali). Ketika beliau menderita kesakitan akibat racun tersebut, beberapa orang pelajarnya memberanikan diri untuk menolongnya tetapi telah dibelasah dengan kejam sekali.

Akhirnya hukuman ke atas Badiuzzaman telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Walau bagaimanapun, Mahkamah Agung telah mengambil masa yang lama untuk membuat keputusan. Mahkamah membatalkan hukuman tersebut setelah Badiuzzaman dan para pengikutnya menghabiskan tempoh penjara yang sama panjang dengan hukuman yang dikenakan oleh Mahkamah Afyon. Lapan tahun kemudian, akhirnya dalam tahun 1956, Mahkamah tersebut mengistiharkan mereka tidak bersalah selepas mereka menghabiskan dua tahun dalam penjara yang teruk.

Pilihanraya bebas dan adil yang pertama telah diadakan di Turki pada tahun 1950. Sistem pelbagai parti telah menggantikan sistem 1 parti. Pemerintahan kejam Parti Republikan Rakyat yang tidak suka pada agama telah tamat. Pelbagai bentuk kebebasan dan hak mula diikhtiraf. Satu zaman baru telah bermula bagi sejarah Republik Turki. Pengharaman ke atas azan telah dibatalkan dalam sidang pertama parlimen baru Turki. Dalam tahun-tahun berikutnya, Badiuzzaman terlibat dalam hanya 1 perbicaraan saja. Dalam perbicaraan di Istanbul ini, beliau tidak ditahan. Keputusannya ialah beliau dibebaskan sebulat suara.

Selepas hampir seabad berkhidmat untuk iman dan Islam, Badiuzzaman Said Nursi kembali ke rahmatullah pada pagi 23 hb. Mac, 1960. Beliau telah pergi dengan penuh kemuliaan dan kemenangan. Hasil karyanya akan terus menyinari abad ini dan abad-abad yang mendatang. Kasih sayang yang dipupuknya akan diperturunkan dari satu generasi ke satu generasi untuk selama-lamanya.

Pandangan terhadap Risale-i Nur

Badiuzzaman telah memahami sebab yang paling penting dalam keruntuhan dunia Islam sebagai kelemahan dalam asas keimanan. Kelemahan ini bersama serangan-serangan pada asas keimanan pada abad ke 19 dan 20 ini yang dijalankan oleh fahaman kebendaan, ateis dan lainnya atas nama sains dan kemajuan menjadikannya insaf bahawa keperluan yang mustahak dan genting adalah untuk menguatkan dan menyelamatkan keimanan. Apa yang diperlukan adalah untuk mengerahkan semua tenaga untuk membangunkan ajaran Islam melalui asas keimanan dan untuk menjawab persoalan-persoalan keimanan ini pada tahap yang diperlukan dengan “Jihad yang Maknawi” atau “Jihad dengan Ayat”.

Dalam masa penahananya, Badiuzzaman telah menulis satu koleksi karya yang digelar Risale-i Nur, yang menerangkan dan menghuraikan asas-asas keimanan dari kebenaran Al-Quran kepada manusia moden. Metodologi yang digunakannya adalah dengan menganalisis keimanan dan kekufuran serta menunjukkan melalui hujah-hujah yang rasional dan terang bahawa bukan sahaja keimanan boleh dibuktikan, kesemua kebenaran yang terkandung dalam keimanan seperti keujudan Tuhan dan keEsaanNya, kerasulan dan kebangkitan manusia di hari akhirat dalam bentuk jasad juga dapat diterangkan sebagai satu satunya penjelasan yang rasional dari keujudan manusia dan alam semesta ini.

Dalam menjelaskan keadaan yang sebenarnya dari tujuan utama penciptaan manusia dan alam semesta ini, Risale-i Nur menunjukkan bahawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat hanya boleh diperolehi dalam keimanan dan ilmu ketuhanan. Ia juga menunjukkan akibat dari kekufuran, menyebabkan roh manusia dan hatinya mengalami kesakitan dan kesedihan yang amat sangat di mana biasanya orang-orang yang sesat berusaha untuk menghilangkannya melalui kelalaian dan menolak kenyataan. Oleh itu, sesiapa yang mempunyai sebarang kesedaran boleh mengambil perlindungan dengan cara berpegang kepada keimanan.

Berikutnya adalah beberapa petikan yang di utarakan oleh tokoh-tokoh Islam ketika ini keatas Badiuzzaman dan Risale-i Nur:

Dalam sejarah Islam, tiga pergerakan Islam berikut telah bangkit dan meyerupai satu dengan yang lain di mana setiap satunya telah memainkan peranan yang besar dalam memelihara keimanan orang-orang Islam : 1. Pergerakan Imam Rabbani, Shaykh Ahmad Sirhindi di India. 2. Pergerakan Abdulhamid ibnu Badis di Algeria 3. Pergerakan Badiuzzaman Said Nursi di Turki.

Prof. Abdul Wadud Celebi

(Universiti Al-Azhar,Mesir)

Saya percaya bahawa penulisan dalam Risale-i Nur sahajalah yang melihat dengan secukupnya dan menyeluruh kepada kosmos seperti keadaaannya yang sebenarnya, menyampaikan keimanan dengan pentafsiran Al-Quran seperti yang dikehendakki oleh Rasul kita, mencari sebab penyakit yang menjangkiti manusia moden dan menawarkan ubat yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit ini dengan sepenuhnya. Sesungguhnya saya berkepecayaan bahawa pengarang Risale-i Nur layak untuk di gelar Mujaddid.

Dr. Colin Turner (Telah memeluk Islam)

(Universiti Manchester,England)

Rujukan :

1. Umit Simsek, 1989, A brief biography of Bediuzzaman Said Nursi, Sozler Yayinevi, Istanbul.

2. Collin Turner, 1992, The Risale-i-Nur as a New School of Belief.,International Symposium : The construction of Islamic thought in the twentieth century and Bediuzzaman Said Nursi, Sozler Publication, Isatanbul.

3. Abdul Wadud Celebi, 1992, International Symposium : The construction of Islamic thought in the twentieth century and Bediuzzaman Said Nursi, Sozler Publication, Isatanbul.

Disusun dan diterjemah oleh :

Wan Jaffree bin Wan Sulaiman (SRI ABIM Kedah)

Khairul Anuar Mohd. Nayan (Universiti Kebangsaan Malaysia)

Reuters' interview transcript with Harun Yahya



Istanbul, May 2008

Correspondent: Do you work with United States creationists?

Adnan Oktar: Years ago, they came to our conferences. But creationism in the U.S. is not as powerful. It doesn’t have very sound scientific foundations. Our creationism is much stronger. It has better foundations and is much more influential. For example, they say the world has another 7,000 years to go. But this is not scientific and they show no evidence for this. This shows how weak their system is. But our ideas are always creating evidence and we present the evidence from history. We say the universe was created by the Big Bang billions of years ago. These ideas are in parallel with science.

Correspondent: Do you support “intelligent design”?

Adnan Oktar: The intelligent design system seems very insincere to me. It’s the product of a weak belief system. Everything was created by Allah and we have scientifically proven this.


Correspondent: They just don’t say that God did it. Don’t you believe that?


Adnan Oktar: It is obvious that this is insincere. If one believes that Allah has created the world, he should say so openly. Avoiding this only creates suspicion. Just saying some power has created this will be annoying for people who sincerely believe in Allah.


Correspondent: What has been the reaction to your books in the U.S.?


Adnan Oktar: We are in parallel with their ideas. It is in total agreement with the belief system of Christians and Jews. When you look at the belief systems of the three major religions, you see there are many overlaps and common ideas about afterlife, prophets, and moral issues. You see they’re all in parallel. When Jesus Christ arrives, this discrimination will also be abolished and there is going to be one single religion.


Correspondent: We’ll get to Jesus in a moment. Before that, though, can you say if you have Saudi backing?


Adnan Oktar: It would be wonderful if there were such backing. But unfortunately we don’t have any offers of such kind until now. We would welcome those offers. I think the Gulf and other Islamic countries do not quite appreciate the importance of these ideas. I think the Western world has come to understand that these ideas are very important. If the Islamic countries would also appreciate and think the same, I think they would be supporting us. You may say they don’t quite appreciate that Darwinism is a threat. They are defending themselves by the following arguments. One idea they have is that Darwinism is an old theory that has lost its influence so there is no need to fight Darwinism. The second idea is that Darwinism is compatible with Islam. In fact these are passive defence mechanisms. This is human psychology. When you are not strong enough to do something against something, you just make excuses for not doing so. But we didn’t do that, we created very strong evidence against Darwinism and we destroyed Darwinism.


Correspondent: Are you the biggest publisher in the Muslim world?


Adnan Oktar: I don’t know. I think we have to investigate that.


Correspondent: I don’t know where to ask


Adnan Oktar: But it seems so. Technically it seems so. My books have the highest number of sales. Also from the internet my books have been downloaded 10 million times in one year. No publishing house could achieve that.


Correspondent: Why do you distribute books for free if you need sales to finance the business?


Adnan Oktar: The sales of hard copies are enough.


Correspondent: But what is the purpose? Is it just to get your religious message out?


Adnan Oktar: I would like the world to be introduced to brotherhood. I want wars and terrorism to come to an end. I want everybody to know the love of Allah and be united under one religion and live in brotherhood.


Correspondent: How many people work for you here?


Adnan Oktar: There are 20 assistants who help me. The translators aren’t included in this number. But most of the translators work on a voluntary basis.


Correspondent: Now let’s get to Jesus. Why do you talk about him? When is he coming?


Adnan Oktar: When you take the hadith and the verses of the Koran, we understand that Jesus is going to be coming. When we analyse this from a technical point of view and look at the words of the prophet Mohammad, we understand this is going to be in the next 20 to 25 years. When he comes, first he will not know that he is Jesus. He is going to be discovered by religious Christians who have some beliefs in parallel with Islam. Then Jesus is going to learn all the different religions including Islam and he will read the Koran. He will unite these religions into one religion. He’s going to unite Christianity into Islam. When he came the first time, he reinterpreted Judaism into the Bible. When he comes this time, he will reinterpret the Bible according to the Koran and take it as a reference. We believe that he will be born in a small group and he is going to meet the Dajjal (anti-Christ). By showing miracles, he is going to beat him.


Correspondent: Which Christian group will he be born into?


Adnan Oktar: We are not sure about it. Maybe it is just beginning to form.


Correspondent: What will be the holy scripture when Jesus comes?


Adnan Oktar: When Jesus comes, he will take the Koran as a reference. As you know, the Bible is a book very close to the Koran. So in a way he will also be taking the Bible as a reference.


Correspondent: But the Koran will be the one holy book for all these believers?


Adnan Oktar: Yes.


Correspondent: Does that mean Jesus becomes a Muslim?


Adnan Oktar: Yes. In fact he is a Muslim. Prophet Abraham and Moses were also Muslims. All these are Islamic religions. All Islamic religions are the same.


Correspondent: When Jesus comes, do you expect the Mahdi to come too?


Adnan Oktar: Yes.


Correspondent: Who will it be?


Adnan Oktar: We don’t know who the Mahdi is, whether he has come or not. He also cannot claim ‘I am the Mahdi,’ as far as we know. When the Mahdi comes, he is going to behave in parallel to Jesus Christ. We know the Mahdi will be from the descendents of the Prophet Abraham, just like Jesus. This will be the last period of the world, when Islamic ethical values will govern the world. This is going to be also a reflection of the domination of the descendents of the Prophet Abraham. There will be no Jews or Christians who don’t believe in Jesus Christ, because of the miracles that he will perform. We understand this from the Koran. The Koran says the following: the people who believe in you will be victors until doomsday. This is said about Jesus.


Correspondent: People say you think you are the Mahdi.


Adnan Oktar: There are some two hundred indicators of the Mahdi. I do not make a claim. I have written a book. Some people, because of the parallels with the hadith of the Prophet Mohammad, have thought that I could be him. But this is not my claim. I am also one of the descendents of the prophet Mohammad. I am known to be a person called Sayyid. Because of the parallels with words of Prophet Mohammad, some people may have thought (that I am the Mahdi). But in Islam, I cannot make such a claim. It is forbidden for me to make such a claim. It would mean that I would be an innocent person without sin. To make such a claim would be wrong according to Islam. The Mahdi will have only undeniable evidence (that he is the Mahdi). When the Mahdi comes, he will work in parallel with Jesus. This will be a time when Islam governs the world. When that happens, he will be the leader of the Islamic world. We will say that maybe this person is the Mahdi. But other than that, we cannot make any final conclusion and I cannot make such a claim.


Correspondent: Maybe your supporters do so because they think this?


Adnan Oktar: I am a sincere Muslim. Because of my attitude, comprehension, love and respect to people around me, these people are supporting me. They cannot say I am the Mahdi. This would also be in conflict with their Islamic religion. It would mean I don’t need to be tested. I would be innocent. This is wrong to claim so. Of course everybody can suspect that when you have a good person in front of you, that is a very good person and that person is going to heaven probably. You can think about it and have the suspicion he might be the Mahdi. But you cannot have the final diagnosis that he is the Mahdi. That is wrong according to Islam.


Correspondent: In your pseudonym, which John in the Bible does Yahya refer to?


Adnan Oktar: It’s John the Baptist, who gave the news of Jesus.


Correspondent: Why did you choose this?


Adnan Oktar: Harun was the assistant of the Prophet Moses. Yahya was also the assistant of Jesus Christ. When Jesus comes to the world, we also would like to be helping him. This would be a big honour to us. You might say this is a prayer for that.


Correspondent: Why do you publish so many children’s books?


Adnan Oktar: For children it’s very important to have the love of Allah. It’s a big pleasure for them that Allah exists and heaven exists and they will be living for eternity. I would like to give this great message to the children.


Correspondent: How do you work?


Adnan Oktar: As I said, I have 20 assistants. When I’m about to write a book, I ask for all the information and they gather all the information for me. That’s why it’s very easy for me to write a book. I just do the interpretation, I add the pictures, I send it to the editor and I don’t do anything afterwards. Most of these books have quotes in them or they’re a collection of other books. That’s why it’s very easy and fast for me to be so prolific.


Correspondent: What’s your next big project?


Adnan Oktar: I have more than 250 books now, more near 260. I am preparing a book about skulls. I am showing skulls which are fossils as evidence there was no evolution. So I continue to produce Islamic books.


Correspondent: But not another Atlas of Creation? No further campaign?


Adnan Oktar: Our biggest project right now is to lay the grounds for the coming of Jesus Christ, to just prepare the background of this. When he comes, he’s going to have extraordinary power and perform phenomenal miracles. Islam will spread rapidly through the world. The miracles he will show will be undeniable, including to the anti-Christ.


Correspondent: So all of this is the buildup for his second coming?


Adnan Oktar: That’s correct.


Correspondent: Can you summarise your overall philosophy in a few words?


Adnan Oktar: When you look at the Bible, the Pentateuch and the Koran, you see the message they give is very simple and easy. They want happiness for all people. They want people to be sincere and love one another. They want everyone to live in peace in heaven until eternity. We also have this basic philosophy. We don’t want any violence, any anarchy in the world/ we want people to live in peace and happiness in the world.


Correspondent: Where does the Atlas fit into that?


Adnan Oktar: Satan has deceived people by Darwinism. In fact, nothing can be a product of coincidence, not you, not me, not an orange, not an apple, not Albert Einstein. This is just a deception of Satan. We are just preparing the background for this belief. For example, right now I am forming a 3d image of you in my brain which is much more perfect than the best television in the world. You know how many people are working in the production of television. This cannot be a coincidence. Some power must have created this. It is so obvious, but Darwinism was spread under the deception of Satan. Darwin has mentioned many intermediary fossils but none of these fossils have been discovered. We have presented as evidence of about 100 million living fossils as evidence of creationism. This also proves that the ideas of Darwin are invalid. When you look at a protein, it is impossible to produce a protein by coincidence, technically and scientifically. This also proves how false these ideas of Darwinism are. Even ten fossils in my book are sufficient for refuting Darwinism. When you look at hundreds of pictures in my book, this is nothing compared to all the fossils that have been discovered. So we understand that Darwinism has come to an end.




Sabtu, 23 Agustus 2008

He is a man


Astaghfirullah…… rabbal baraaya…
Astaghfirullah…… minal khathayaa… (2x)

Barang siapa… Allah tujuannya…
Niscaya dunia… akan melayaninya…
Namun siapa… dunia tujuannya…
Niscaya kan letih… dan pasti sengsara…
Diperbudak dunia… sampai akhir masa…

Entahlah berapa banyak orang yang mengenal syair diatas. Pun saya tak tahu berapa banyak orang yang tersentil dengan syair tersebut. Yang jelas saat menulis tulisan ini di malam yang sepi sambil mendengarkan nasyid tersebut tiba-tiba air mata saya berlinang, seakan-akan tersodorkan sebuah cermin yang memperlihatkan betapa wajah yang selama ini sibuk mengejar kebahagiaan, ternyata hanya memperpayah diri meraup kebahagiaan semu. Syair ini pula yang makin dimaknai makin menembus ke dasar hati terlebih mengorek-ngorek timbunan memori dimana sang penyair telah menorehkan sebuah kenangan manis bagi si penulis ini.

Rasa kehilangan seorang mubaligh kelahiran tahun 1962 ini mulai menyeruak tatkala berita pernikahannya yang kedua dipaparkan media. Semenjak itu ceramah-ceramah segar yang aplikatifnya itu seakan-akan terbenam ditelan kemarahan orang-orang yang berpendirian bahwa rumah tangga adalah singgasana yang boleh dan hanya boleh diduduki untuk seorang suami dan seorang istri, tidak lebih (selain anak). Ah.. tapi saya tidak ingin mengulas moment ini terlalu jauh. Terlalu nekad jika saya ngotot hendak mengulas hal yang masih belum mempunyai titik pijak yang sama ini, ada bermacam-macam orang, bermacam-macam latar belakang pendidikan, bermacam-macam karakter, dan tentunya bermacam-macam cara pandang pula. Jadi lebih netral bagi saya untuk mengulas tokoh ini sebatas pengalaman saya bersua dengan beliau, tidak lebih!

* * *

Jika kita berjalan melewati sebuah wilayah dimana para preman bergerombol, mabuk-mabukan, berjudi. Kira-kira apakah yang akan kita lakukan? Jangankan melewati, mungkin mendengar nama wilayahnya saja sudah membuat bulu kuduk kita merinding. Lain hal dengan ulama yang pernah mengenyam ilmu di Fakultas Teknik Elektro Jendral Ahmad Yani Cimahi ini, beliau malah mengontrak 2 kamar dari 20 kamar yang ada di wilayah “gembong berandal” tersebut. Dua kamar! Dan Aa menggunakannya untuk menimba ilmu agama bersama kawan-kawannya. Lalu siapa pula yang menyangka, Aa akhirnya berhasil mengontrak seluruh kamar, bahkan membeli kepemilikannya seharga 100 juta.

Kini, bangunan sederhana itu tidak terlihat lagi, kecuali telah menjadi bangunan suci, sebuah masjid, sentral menimba ilmu yang bernama Daarut Tauhiid. Betapa senangnya masyarakat sekitar kala mendengar akan dibangun sebuah mesjid disana, terlebih mereka membayangkan “tempat sialan” dan bangunan “sumber onar” yang tengah menemui ajal. Daarut Tauhiid dibangun oleh ribuan tangan dengan dana hasil swadaya (urunan) masyarakat sekitar. Ketulusan dan gotong royong itulah yang mungkin membuat mesjid ini tidak pernah sepi dari para pencari ilmu, baik yang datang dari pelosok Bandung, maupun dari ujung pulau sebelah sana. Tiap malam Jumat maupun malam Ahad, Daarut Tauhiid seakan menjadi sempit dibanjiri para penimba ilmu, bahkan tak sedikit yang bermalam di mesjid. Saya terkadang mesti datang lebih awal, agar bisa menempati “kavling” favorite saya di pojok kanan depan masjid tersebut.

Kembali lagi ke tokoh utama yang ingin dibahas. Aa Gym yang merasa tidak nyaman dipanggil ustadz maupun kiai ini sungguh sederhana dalam kesehariannya. Pernah suatu ketika saya diamanahi menjadi panitia penerimaan tamu negara, dimana bapak Hamzah Haz yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden RI, hendak berkunjung ke Daarut Tauhiid dan ke gubuk sederhananya Aa Gym. Panitia berencana mengganti tikar yang ada di rumah Aa dengan karpet yang sedikit lebih bagus, namun Aa malah berujar, “ Tidak perlu repot-repot menyusahkan diri, dan mempercantik apa-apa. Biarlah beliau tahu rumah Aa apa adanya. Lagi pula yang datang kan abdi masyarakat, lebih mulia bagi kita mempercantik diri ketika hendak berjumpa dengan Allah “ Nyess.. kata-kata Aa itu, membuat hati saya menjadi malu sendiri dengan apa yang saya perbuat.

Belum 2×24 jam rasa malu itu benar-benar sirna, sudah ditambah lagi perbuatan memalukan lainnya. Ketika itu terlihatlah Aa sedang berjalan mengantar bapak Hamzah Haz beserta rombongan pulang. Persis di depan saya, sebuah bungkus permen berwarna hijau tua tidur seenaknya di tengah jalan. Adalah aib bagi seorang santri Daarut Tauhiid melihat sampah sekecil apapun terlihat di pelupuk matanya. Maksud hati ingin mengambil, tapi apa boleh buat ternyata Aa menyabetnya lebih dulu dengan sigap. Saya pun dengan tangan masih menggelayut hendak menyentuh tanah hanya bisa terpana dengan mendongakkan pandangan tertuju pada bungkus permen sialan itu yang kini telah masuk jas kokonya Aa. ” Keduluan…! ” ujar kemenangan Aa sambil tersenyum. Sedetik kemudian Aa menepuk-nepuk pundak saya dan berpesan, “Lain kali lakukanlah kebaikan lebih dahulu dibanding orang lain”. Glegh… kata-kata itu langsung menghujam di hati saya. Sambil mengepalkan tangan dan berucap dalam hati, ” InsyaAllah mulai saat ini, saya adalah orang pertama yang melakukan kebaikan “

* * *

Saya rasa Anda, dan juga saya setuju bila dikatakan bahwa ceramah-ceramahnya Aa Gym begitu ringan dan aplikatif tentang akhlaq sehari-hari. Hal itulah yang mungkin membuat ceramahnya Aa digemari bukan hanya oleh kaum Muslimin sendiri, tapi juga oleh pemeluk agama lain. Pernah beberapa wartawan asing, sengaja datang, menyewa sebuah cottage di sekitar Daarut Tauhiid demi mendapatkan informasi tentang kehidupan Aa Gym. Beberapa diantaranya mengaku baru memahami Islam yang sesungguhnya setelah merekam gerak-gerik Aa, padahal Aa tidak pernah memberikan ceramah kepadanya melainkan sekedar mengijinkan pergi kemana Aa pergi, bahkan ada diantaranya yang mengucapkan dua kalimat syahadat yang langsung disaksikan Aa beserta jemaah yang hadir ketika itu.

Tak hanya itu, Aa punya ide-ide brilian dalam menyebarkan dakwahnya. Mulai dari membangun station radio AM, yang saat itu diberi nama Radio Ummat, kemudian dirasa kurang puas, dibangunlah pula station radio FM yang diberinama MQ FM, lalu beberapa tahun yang lalu Aa membuat station televisi MQ. Aa menyadari bahwa semua itu tidak terlepas dari kebutuhan dana dan biaya. Aa kemudian mengambil langkah strategis dengan membangkitkan perekonomian umat. Aa mulai membangun Swalayan bernama SMM DT, kemudian mendirikan PT. MQS, dan puluhan perusahaan yang Aa dirikan untuk menyokong dakwahnya tersebut. Jadi selain sebagai seorang ulama yang duduk berceramah, bisa dikatakan Aa pula seorang entrepreneur yang aktif membangun perekonomian. Bukan hanya memberikan dakwah-dakwah teoritis, tapi juga teladan praktis.

* * *

Ujian popularitas pun akhirnya datang menghampiri, Aa yang dulunya takut terkenal, takut banyak orang yang secara tidak sengaja mengkultuskannya (datang ke ceramahnya sekedar keinginan bertemu si tokoh), dan juga takut berhadapan dengan kamera akhirnya mulai dikenal publik. Puluhan bahkan ratusan proposal permintaan pengisian pengajian tiap bulannya makin menggunung. Aa saat itu mulai kewalahan. Ditambah lagi, media mulai melirik Aa sebagai “objek” baru, penglaris tayangan.

Kesibukan Aa mulai menjadi-jadi. Mengisi ceramah seharian penuh, tidur sebentar, besoknya harus kembali memenuhi undangan dari sana sini, 1 hari 24 jam, 7 hari seminggu, tiada henti. Pernah dua kali saya memergoki Aa kecapean di belakang layar. Pertama, sepulang dari luar kota dimana setibanya di Daarut Tauhiid Aa langsung mengisi acara rutin yang diasuhnya. Tampak bibirnya yang kaku, matanya yang nanar dan suaranya yang parau. Kali yang kedua adalah saat acara MILAD Daarut Tauhiid di JHCC Senayan Jakarta. Di belakang panggung sebelum Aa memasuki podium, saya melihatnya benar-benar kelelahan. Namun Aa yang melihat raut muka saya sedang mengkhawatirkan keadaannya berkata menenangkan, ” Aa memang sedikit kelelahan, tapi inilah resiko berada di jalan dakwah. Tolong doakan ya! “. Tak lama, rombongan team nasyid Raihan pun sekonyong-konyong datang menghampiri, dan Aa seakan mengubur kelelahan yang baru saja nampak jelas saya lihat, berganti menjadi sebuah senda gurau segar dengan para artis Malaysia itu. Dan saya pun yakin, tak banyak orang yang tahu bahwa saat beliau ceramah, bisa jadi saat itu beliau dalam kelelahan yang teramat sangat, namun selalu beliau tutupi dengan canda dan senyumnya.

* * *

Namun, dibalik kearifan seorang Aa gym yang menjadi tokoh idola ke-2 dari 8 tokoh idola saya yang lainnya ini, ada pula satu tokoh yang perlu saya catutkan namanya disini. Yaitu tokoh yang menjadi penginspirasi dan pemotivator Aa. Dialah guru agama pertamanya Aa. Agung Gun Martin, seorang adik kandung yang lumpuh, cacat, dan hampir tuli. Sang adik yang kala itu dalam hal ilmu spiritual lebih tinggi dari kakaknya ini, tak pernah semalam pun lepas dari shalat wajib dan tahajudnya, meski bernafas saja sulit, sang adik tetap mendisiplinkan diri untuk pergi ke mesjid. Aa bahkan dengan setia menggendong sang adik yang hendak berangkat ke mesjid maupun ke kampus ini. Ada rasa penasaran yang menyeruak dalam hati Aa akan kesabaran dan sikap tak pernah mengeluhnya sang adik ini. Hingga pada suatu kesempatan Aa menanyakan langsung tentang berbagai kekurangan adiknya yang selalu ia hadapi dengan senyuman. Dengan ringan sang adik menjawab sambil tersenyum ” Aa.. untuk apa atuh mengeluh. Bukannya itu tidak akan mengubah keadaan. Lebih baik sabar saja. insyaAllah dapat pahala “. Jawaban itu seakan-akan menjadi guntur yang memecahkan keangkuhan seorang Aa Gym. Ditambah lagi, adik yang dicintainya ini akhirnya harus meregang nyawa saat berada di pangkuan sang kakak, tak ayal lagi moment itu menjadi titik balik perubahan hidup seorang Aa Gym.

* * *

Demikianlah sekelumit kisah yang bisa saya bagi dari pengalaman saya bersama dengan Aa Gym, tidak lama, sebab sejak tahun 2001 saya harus pindah ke Jakarta, dan beramal menurut bidang yang dianugerahkan kepada saya. Jika opini ini pun dilihat dan dibaca pula oleh Aa, maka pertama-tama saya ucapkan salam. Dan teriring doa untuk Aa, teteh-tetehnya, dan keluarganya semoga selalu diberkahi, diberikan kesehatan yang prima, dijauhkan dari fitnah, terutama diberikan kelapangan hati. Saya menghaturkan segala rasa syukur dan terima kasih atas ilmu-ilmu yang Aa bagikan, terlebih teladan yang Aa perlihatkan. Sungguh semua itu, menghujam dalam hati saya.

Terima kasih pula untuk media-media yang masih tetap istiqamah menyebarluaskan ceramah-ceramahnya Aa. Media yang tidak menjadikan agama sebagai tunggangan meraup keuntungan dan memutus kontrak saat ketenaran sang “aktor” mulai merosot. Cukuplah sebuah keuntungan itu dapat memberi jalan hidayah bagi yang mencarinya. Tidak perlu juga bagi kita memutus salah satu jalan hidayah hanya persoalan sepele. Seperti seorang pekerja yang dengan berbagai alasan tidak menyukai atasannya, tapi tetap lekat di perusahaan tersebut, karena atasan tersebut memberinya jalan rizki untuk menyambung hidup.

Kepada santri-santri Daarut Tauhiid dimana pun berada, tebarlah kebaikan dimana pun berada dan jadilah orang pertama yang berbuat kebaikan. Mudah-mudahan kita selalu ingat dengan tekad kehormatan kita yang pertama, untuk menjadi seorang muslim yang terpercaya sampai mati. Dan tiga pantangan yang akan selalu kita ingat, pantang mengeluh, pantang menyerah, dan pantang menjadi beban.



*Tulisan ini telah dimuat di www.insansains.wordpress.com dan www.pintunet.com (dengan sedikit revisi).